Lelaki dari Antah Berantah

Langit pun menggelar kanvas alam. Semburat jingga tergoreskan kuas sayap burung camar. Angin senja bernyanyi menidurkan mentari, tenggelam dalam lelap.
Ini kali keduabelas aku datang ke sini. Pantai yang sama, dengan ombak dan angin yang juga sama. Pun harapan dan kecemasan yang sama. Menunggu sesuatu yang belum pasti, tapi entah kenapa yakinku tinggi.
Masih kuterdiam di sini dengan pikiran yang muncul setahun yang lalu. Pikiran tentang sebuah mimpi. Mimpi yang tak kumengerti yang hingga kini selalu kucoba mencari jawabnya. Aaahh,…siapa dan kapan?
Air pasang mulai mengusirku pelan. Angin berbisik mengajakku pulang. Mentari pun telah tergantikan rembulan. Kulirik jam tanganku, 18.13. Tak terasa. Aku memang suka sekali pantai. Betah berlama-lama di sini, apalagi ini bukan hari libur, tak banyak orang datang kemari. Tak lebih dari hitungan jari. Pak Somad, sang empunya warung kecil yang ada di pinggiran pantai, tersenyum menatapku dan menyapa, “Pulang, Neng?”
“Ya, Pak. Mari”, jawabku singkat.
“O,iya silakan, hati-hati, Neng”, balasnya.
Aku mengenalnya sejak pertama kali aku datang ke sini sendirian, dan memang selalu sendiri. Warung kecilnya tempat aku menghilangkan dahaga dengan kelapa muda segar. Lelaki paruh baya itu selalu ditemani istrinya, Bu Sunarti. Mereka sudah terbiasa dan tak merasa heran melihatku rajin mengunjungi pantai ini, sendirian.
Bis kecil yang kutumpangi kali ini lumayan penuh. Mataku sempat menyapu seluruh ruang kotak besi ini. Udara dingin membuat mereka bungkam dan memilih untuk memejamkan matanya. Mataku menerawang keluar jendela, ternyata gerimis. Kembali aku mengingat mimpi-mimpiku. Mimpi yang sama yang selalu hadir hampir di setiap malamku. Siapakah dia? Sesosok lelaki yang samar terlihat, namun serasa tak asing bagiku.
Pantai yang sepi, namun damai. Cahaya bulan tidak cukup mampu memperlihatkan raut wajahnya dengan jelas. Tangannya membelai rambut panjangku. Mengelus lembut pipiku. Lalu hangat bibirnya mengecup kening dinginku. Matanya menatap tajam tertuju mataku, jauh menembus jantung dan perlahan masuk ke relung hati. Serasa ada yang menghenyak di dada. Lalu darah mendesir lembut, selembut tatap matanya. Teduh. Lalu perlahan menghilang. Samar, … dan akhirnya buyar. Terasa mulutku membuka, ingin memanggilnya, namun siapa? dan ke mana perginya?..
Kembali aku terbangunkan dari tidur malamku. Lalu kucoba memunguti serpihan gambar mimpi yang baru saja buyar. Memutar ulang cuplikan tersebut, jelas namun samar, selalu begitu, ingat namun membuahkan puluhan tanda tanya.
Hari-hariku selalu bercerita tentang lelaki itu, yang lucunya tidak kutahu, namun hati sangat mengenali. Merasakan dia bukan orang lain dan seseorang yang harus kutunggu. Memang begitu, kunanti dia tanpa terganggu sosok lelaki lain. Mungkin terdengar menggelikan bagi sebagian orang, termasuk beberapa teman yang selama ini selalu rajin mengingatkanku.
“Bolehlah menunggu seseorang, tapi gak konyol seperti inilah, menunggu sosok yang cuma ada di khayalan, gak jelas siapa dia, dan yang jauh lebih penting yang harus kamu ingat, nih, apa betulan dia ada di dunia ini? Itukan hanya mimpi, kalaupun sering muncul, kali aja kamu emang lagi mendambakan kehadiran seseorang, terus tanpa sadar kebawa mimpi, deh, obsesimu itu. Sadar,dong, Mis! Weak Up, weak up!” cerocos Anggi dengan suara soprannya.
“Lagian, kalaupun ada, bisa jadi ada tuh orang yang ada di mimpi kamu, harus cari dia ke mana? mau sampai kapan kamu tunggu? Sampai rambut kamu putih semua?” Mirna ikut menimpali.
“Buka, dong mata kamu, Misty. Apa gak kamu lihat cowok-cowok keren yang ada di sekitar kamu? Masak sih gak ada satupun yang terpilih?” Ranti pun ikut kesal. Aku cuma tersenyum, kadang tak peduli apa yang mereka bicarakan, tentu saja mereka tambah geregetan.
Ini bukan masalah benar atau tidak mengenai tindakanku, yang jelas aku percaya kata hatiku. Awalnya kuhindari, bahkan aku sendiri terheran dengan apa yang terjadi, namun ada sesuatu datang jauh dari dalam hati yang menuntun langkahku untuk mengambil jalan ini, toh aku nikmati, meski ada yang menyiksa, lubang di hati yang belum terisi. Rasa rindu itu begitu pekat, menggeliat di relung hati, terpikat akan hadirnya. Ini bukan khayal, yakinku begitu pasti. Dia akan datang suatu saat nanti.
Seperti yakinku hari ini, pantai yang sama memanggilku. Ada getar hebat dalam dada. Serasa ada yang menarikku menuju pantai. Mendorong dan menggerakkan kaki, terutama hati.
Sarapan pagiku kukunyah kasar dan kutelan bulat, roti lapis isi telur yang biasanya kuperlakukan lembut, kali ini harus pasrah kuganyang terburu-buru. Kudorong paksa masuk kerongkongan dengan segelas susu murni. Pukul 08.13, sempat kulirik jam tanganku. Aku pun pamit terburu kepada bunda yang bengong melihatku.
“Misty, kok sepagi ini? Selalu saja ke pantai, apa gak ada objek lain selain pantai yang kamu jadikan objek lukisanmu?” protes kecil dari bunda tak menghentikan lari kecilku menuju pintu. “Bye, Mommy. See you later. I love you!” Tak sempat kudengar jawaban dari bunda karena aku sudah berada dekat pintu pagar hanya beberapa detik kemudian. Bisa kutebak pasti bunda akan menjawab, “…love you too, hati-hati sayang.”
Tak seperti biasanya aku datang kemari sepagi ini, biasanya lebih sering menjelang waktu Ashar. Pantai ini hanya berjarak kurang lebih satu setengah jam dari rumahku. Hari ini libur, namun beruntung sekali aku, tak banyak pengunjung datang kemari. Entahlah, aku sedikit egois, rasanya aku lebih betah berdiam menyepi tanpa banyak orang di pantai.
Matahari sudah tepat di atas kepalaku. Kanvas dan cat minyak yang kubawa belum tersentuh, masih rapi tersimpan dalam tas besarku karena memang tidak ada niat melukis hari ini. Juga dua majalah yang baru terbit kemarin, yang belum seluruh isinya kubaca, rasanya hari ini harus bersabar untuk kujamah. Gak ada mood. Aku pun menyingkir sementara waktu dari tepian pantai menuju warung kecilnya Pak Somad dan Bu Sunarti.
Matahari sudah lewat beberapa derajat ke arah kananku. Pukul 15.13. Aku betah berlama-lama berbaring sambil mereka-reka bentuk awan. Kebiasaanku sejak kecil. Ada yang menyerupai boneka teddy bear, lalu perlahan tertiup angin, berubah bentuk menjadi seolah-olah kuda putih yang sedang menendang, tak lama kemudian seolah menjadi seekor naga putih, ekornya melentik ke atas, dan perlahan angin merubahnya kembali, bersatu dengan gumpalan awan yang lainnya, menyerupai….hiiii, kok seperti monster, hidungnya besar, lalu ada dua bulatan pipih yang kureka-reka itu adalah matanya, telinganya runcing seperti alien, wow…aku pejamkan erat mataku, kalau sudah begini aku menutup mata beberapa saat, menunggu angin akan merubahnya kembali. Selalu saja kuakhiri dengan tertawa kecil, menertawakan diri sendiri.
Lalu kembali mengingat mimpi itu. Yang belum terjawab sampai detik ini. Aku berharap menemukan jawabnya di pantai ini. Mengapa pantai? Apakah karena kejadian yang ada dalam mimpi itu di pantai? 99% ya, meskipun entah pantai yang mana, tapi pantai inilah tempat aku, dari kecil sampai sekarang, bermain, bersantai, atau “lari sementara” dari kehidupan di luar sana.
Kumemejam mata, mencoba menggambar wajah samarmu yang terlihat dalam mimpi. Kapan hadirmu nyata? Dan kurasa jua sentuh dan belai nyata-mu. Sudah setahun aku menanti, tak cukupkah itu? Berapa tahun lagi harus kutunggu? Aku yakin bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa kamu akan datang menjumpaiku. Tapi entah kapan, dan di mana? Siapakah kamu? Dari mana asalmu? Semua itu hitam, tak ada petunjuk apapun. Ya, kamu laki-laki misterius yang mendadak muncul dalam mimpiku setahun yang lalu, setiap datang lewat mimpi pun tanpa kata, sehingga tak kutahu namamu, dari mana asalmu. Lelaki dari antah berantah,….. itulah julukan yang kubuat untukkmu.
Aku menarik napas panjang, dan kuhembuskan lepas melalui mulutku, sedikit keras. Pertunjukan sunset segera dimulai. Film alam yang begitu memesona, meskipun terjadi setiap hari namun tak ada seorangpun yang merasa bosan untuk menyaksikannya. Sempat kuputarkan pandanganku ke sekeliling, beberapa pasang kekasih terlihat mesra tak mau melepaskan moment indah ini. Tingkah laku mereka membuatku iri. Tertawa cekikikan saling menggoda. Kapan aku seperti itu?
Kutemani mentari beranjak sampai ke peraduannya. Air mulai pasang menjilati kakiku. Para pasangan kekasih pun sudah tak kelihatan. Tinggal aku dalam sepi. Aku berdiri, meraih tas selempangku dan kutenteng sandalku. Hampa. Mungkin bukan hari ini, batinku. Masih kusempatkan diri melihat gelapnya langit beberapa saat. Tersenyum getir membalas senyuman rembulan yang indah menawan. Lalu membalikkan diri menjauhi pantai, …..tiba-tiba….
“Hek,…” napasku tertahan. Aku terkejut, sesosok laki-laki berdiri tepat di hadapanku. Dekat sekali. Hanya setengah meter kami berjarak. Dadaku bergetar hebat. Kurasakan dengan sangat sadar bibirku terbuka, sulit kukatupkan. Kerongkonganku tersekat, kurasakan panasnya aliran darah menjalari sekujur tubuhku. Entah kapan dia datang, dan dari mana? Muncul begitu tiba-tiba tanpa dapat kudeteksi kehadirannya, paling tidak suara langkahnya.
Ya, Tuhan! Wajah itu! Wajah yang selama ini mengganggu tidurku. Aku serasa terhipnotis, diam tak bergeming. Dia melangkah mendekatiku sambil tersenyum, manis sekali, tulang-tulang tubuhku serasa runtuh. Lemas. Hanya seperempat meter di hadapanku, wajahnya menunduk tepat di depan wajahku yang menengadah, sehingga aku bisa merasakan hembusan hangat napasnya. Detak jantungku berdegup kencang, tubuhku melemas tak ada daya.
“Misty,…”suaranya berat namun lembut. Senyumnya melebar. Memesonakanku sekaligus menyadarkanku dari keterdiaman karena super shock.
“Si..siapa kamu?” tanyaku setelah susah payah menghimpum kekuatan diri.
“Pernah mendengar sebuah mythos Yunani?” suara lembutnya selembut tatapan matanya. Mata yang selama ini begitu kurindukan untuk kunikmati nyata. Aku hanya mampu menggelengkan kepala tanpa mampu berkata “belum”.
Lanjutnya, “…sebuah mythos yang mengatakan bahwa,… dulu kala, ribuan tahun yang lalu manusia itu diciptakan berpasangan secara langsung, saling berdempetan, satu hati dengan dua raga, dua tubuh.” Sosok kembar siam terlintas di pikiranku. Aneh juga tapi lucu, he..he…
“Lalu,..” dia menghela napas tanpa sedikitpun berkedip manatapku. Aku pun begitu seksama mendengar ceritanya, menikmati rupawan di hadapanku. Degup jantungku tak sekencang tadi.
“Lalu suatu hari sebuah petir yang sangat besar menyambar seluruh yang ada di permukaan bumi, termasuk seluruh manusia yang ada. Mereka terbelah, terpisah. Masing-masing satu raga dengan sebelah hati, dan hingga sekarang, mereka masih terus mencari pasangannya masing-masing.” Tatap matanya menusuk langsung ke hatiku.
“Dan kau, Misty,… kamu adalah belahan hatiku yang kucari selama ini,” yakinnya setengah berbisik, namun begitu dahsyat dampaknya terhadapku.
Aku merasakan tubuhku tak bertulang, ringan melayang, tak berpijak. Bukan hanya kurasakan, namun dapat kudengar dengan jelas kerasnya degup jantungku. Terbersit kekhawatiran dia juga bisa mendengar degupan ini. Malu. Tapi ternyata terkalahkan rasa yang lain, rasa bahagia yang tak dapat dilukiskan lewat kuas-kuas bututku yang selama ini setia menemani hari-hariku.
Mungkin saja aku telah terjatuh, seandainya tangan kekarnya tidak segera merangkul mesra pinggangku. Semakin mendekat. Tak ada lagi jarak. Aku diam, tak sedikitpun berniat meronta. Tangan kanannya membelai lembut rambut panjangku. Menyibakkan beberapa helai rambutku yang tertiup angin malam sehingga menutup sebagian wajahku. Mengelus lembut pipiku. Lalu hangat bibirnya mengecup kening dinginku. Matanya menatap tajam tertuju mataku, jauh menembus jantung dan perlahan masuk ke ruang kosong di hati. Butiran hangat terasa di pipiku, haru akan rasa bahagia yang ada. Kami saling bertatap, tersenyum. Tak ada kata, namun mata kami berkomunikasi. Seribu kata kutangkap dari sorot matanya, ya, akupun demikian, begitu lama kamu kutunggu, hingga gelisah menahan rindu.
“Siapa kamu?” tanyaku yang sudah mulai tenang, mampu menguasai diri.
“Siapa sebenarnya kamu?” tanyaku tak sabar. “Namamu? Dari mana kamu berasal? Kok, bisa tahu aku? Kenapa ……,” aku tak mampu meneruskan pertanyaanku. Karena tiba-tiba saja bibirku terkunci oleh hangat bibirnya.
Aaahh, …. kamu adalah Lelaki dari Antah Berantah.

Tasikmalaya 10.01.2010
For my beloved husband
Thanks, honey, you make all different in my life

5 thoughts on “Lelaki dari Antah Berantah

  1. radeny berkata:

    hmmmm..nice story🙂
    rencananya kapan cerita ini mau diangkat ke layar lebar?? sy bersedia lho ikutan peran di filmnya nanti, jadi Pak Somad juga gak apa2…hee3x

  2. Rosmiyanti berkata:

    saya gak bosen baca story ini.. ibu memang benar2 berbakat jadi penulis..
    ceritanya manis, romantis,seperti mimpi…
    pokoknya speecless deh..
    Ibu,,kapan bikin story lagi?? jadi gak sabar.. >.<..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s